Indonesia Butuh Pemimpi BESAR

dalam proses editing

Pukul 7.13 pagi salah satu owner perusahaan tour &  travel banyuwangi menghubungi saya via telpon. Dalam hati bertanya-tanya, ada apa gerangan pagi-pagi sudah menelpon ? Saya segera bergegas mengangkat android. "Hallo.. Assalamualaikum... Ada apa bun ?".  "Wa'alaikumsalam...mas andi. Hari ini dikantor ada anak PPL. Mohon diberikan materi tentang marketing ya !".


Sambil berpikir tentang tulisan artikel saya tadi malam yang belum selesai. Lalu saya bertanya,  "Mahasiswa darimana bun?". Beliau menjawab "Dari Universitas ibrahimy Sukorejo Situbondo". Saya langsung menjawab, 'Baik bun. Insyaallah". 


Dengan tangan tetap memegang android, saya menulis di aplikasi whatsapp "Bagaimana kalau hari sabtu saja bun?" Hanya beberapa detik langsung tampil jawaban "Hari ini perkenalan aja dulu".

Lalu berjalan kedapur memberitahu istri kalau barusan ditelpon untuk memberikan materi di kantor biro umroh yang beralamat di JL.Jendral Sudirman Banyuwangi. "Ya sekarang saja yah,  jam 10 kan sudah selesai",  istri memberi saran sambil memasak. Dengan sigap saya langsung bersiap-siap dan segera berangkat. 

Sampai dikantor ada sekitar 10 orang calon jamaah umroh dan beberapa agen duduk santai sambil mengobrol. Saya membaur bersama mereka beberapa menit. Lalu menuju ruang presentasi dilantai dua.

Di dalam ruangan sudah duduk 4 mahasiswi yang berpakaian almamater.

Sambil menyapa mereka, saya ambil kursi dan duduk berhadapan dengan mereka. Saya memperkenalkan diri. Lalu bertanya nama mereka satu persatu. Saya juga memberitahukan kalau hari ini hanya perkenalan saja. Sedang untuk materi akan saya sampaikan hari sabtu. 

Suasana santai dan pembicaraan mengalir membahas banyak hal. Karena mereka kuliah jurusan management business, fokus pembicaraan lebih banyak ke dunia usaha. 

Tanpa terasa pembicaraan kami sudah 1 jam lebih. Dari sekian topik yang kami perbincangkan, ada satu tema yang paling menarik. Pada waktu saya tanya " Apa cita-cita kalian?". Dari ke empat mahasiswi tersebut, satu menjawab ingin punya butik,  yang satu ingin punya restoran seafood, yang satu ingin menjadi orang sukses dan yang satunya belum menjawab apa cita-citanya. 

Setelah saya beri cerita singkat tentang cita-cita atau sebuah keinginan itu tidak harus tercapai. Saya mencontohkan anak saya, kalau ditanya mau jadi apa besar nanti,  dia menjawab ingin jadi astronot. Saya dulu sewaktu masih kecil cita-cita nya ingin jadi pilot. Kenapa ingin jadi pilot? Ya karena sering lihat pesawat lewat diatas rumah. Hihihi.... Saya berkata kepada mereka,  "Jangan takut punya cita-cita. Kalau kita punya keinginan menjadi pemilik restoran,  kita bisa belajar tentang ilmu bisnis restoran. Kalau kita ingin menjadi pemilik butik, kita bisa fokus belajar tentang ilmu pengelolaan butik".

Setelah mendengar penjelasan singkat tentang pentingnya cita-cita. Mahasiswi yang belum menjawab tadi langsung angkat bicara. " Sebenarnya saya punya cita-cita yang tinggi Pak". Secepat kilat saya bertanya, "Apa itu ?". Dia menjawab dengan agak ragu, "Saya ingin jadi MENTERI KEUANGAN".

Ayah dan bunda ! Mempunyai cita-cita dan keinginan yang tinggi perlu keberanian. Rangsang anak-anak kita dengan cita-cita setinggi langit. Orang tua bertugas mendukung,  memotivasi dan mengarahkan. Jangan bunuh cita-cita dan keinginan mereka, untuk Indonesia yang bermartabat.

Bagaimana pendapat anda?

Silahkan berkomentar ya. 




Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Indonesia Butuh Pemimpi BESAR"