Peran Orang Tua Dan Guru Dalam Menggali Dan Mengembangkan Potensi Anak





Di pagi yang cerah, sabtu 11 januari 2020. Kami memenuhi undangan MOW  (Masa Orientasi Walimurid) dari sekolah. Dan acara ke-2 dilanjutkan dengan parenting. Tema yang disampaikan oleh Ibu Andreina Marcelina, S.pi, C.Fc adalah Peran Orangtua dan Guru Dalam Menggali dan Mengembangkan Potensi Anak”. 

Anak saya yang duduk di SD kelas 1, kelas 3 dan si bungsu umur 3,5 tahun dan bundanya juga ikut serta. Tema yang diangkat oleh Ibu Nina (nama panggilan beliau) sangat menarik dan menginspirasi para walimurid yang hadir. Beliau juga mengapresiasikan untuk para ayah (Sekitar ada 10 orang, ini sudah terhitung banyak lho....)   yang menyempatkan hadir. 

Berikut pemaparan beliau yang disampaikan kurang lebih 1,5 jam. Saya mencoba dan berusaha menulis dengan simpel dan sederhana. Mudah-mudahan tidak banyak materi yang terlewatkan. 


Pemahaman Parenting menurut sebagian besar orangtua 


Parenting menurut sebagian besar orang tua adalah suatu beban. Kita tidak boleh teriak-teriak sama anak, tidak boleh marah, tidak boleh menghukum dan masih banyak tidak boleh ini dan itu. Semua pola asuh yang dilakukan oleh orangtua seakan-akan salah menurut ahli psikolog dan pakar parenting.

Membahas potensi anak dianggap sama dengan ilmu ramal-meramal. Pernah suatu hari ada seorang ibu bertanya, "Bu Nina, kalau besar nanti anak saya jadi apa ya ?".

Hasil psikotes yang benar itu tidak memprediksi anak akan menjadi apa kalau dewasa nanti. Pembahasan potensi anak itu adalah tentang membahas pola belajar anak. Apakah pola belajar anak itu eksploratif, eksperimen atau yang lainnya.

Misalnya, anak yang suka membunyikan alat musik ("kotekan" dalam bahasa jawa) maka ia bisa diarahkan ikut ekstra perkusi. Ini menunjukkan bahwa anak tersebut mempunyai potensi motorik yang baik.


Pemetaan (guiding) itu penting. Siapa itu orang tua, siapa itu anak-anak dan siapa itu guru.


Siapa Anak 

Yang dimaksud dengan ANAK itu adalah :

Keturunan orangtua

Garis biologis dari orangtua 
Masa anak-anak terjadi sebelum usia pubertas. WHO dan unicef menyebutkan bahwa kategori anak-anak adalah antara usia 9 tahun 
Individu yg sedang berkembang pada rentang masa tertentu 
Kepribadian terbentuk dari yang diturunkan secara biologis dan stimulasi lingkungan 


Proses pembentukan kepribadian itu berawal dari traits (komponen terkecil dari kepribadian ayah dan bundanya. Setelah itu menjadi kebiasaan (habit)    lalu menjadi perilaku (behavior) dan menjadi kepribadian



Siapa orangtua


Yang dimaksud dengan ORANGTUA itu adalah :

Dewasa yg memiliki komitmen mengasuh, membesarkan, membimbing, & mendidik anak. Bukan karena alasan bekerja atau dirumah

Sumber kasih sayang dan  perlindungan anak. Tugas seorang ayah adalah melindungi bukan hanya mencari uang. Sedangkan tugas pemeliharaan adalah bagian ibu.

Terikat secara biologis dengan anak. Warna kulit, hidung dan lain-lain.

Siapa Guru


Yang dimaksud dengan GURU itu adalah :

Asal bahasa sangsekerta, secara harafiah berarti “berat”

Pengajar suatu ilmu.

Dalam bahasa Indonesia biasanya merujuk pada potensi yang melakukan tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi siswa.

“Madrasah Yang pertama Adalah Ibu”. Tugas yang berat bagi seorang ibu, seharusnya ayah memahami. 




Tugas Perkembangan

Motorik
Sumber bahagia. Endorfin/rasa bahagia harus baik. Itu sebabnya anak-anak sangat senang berlari.
Sosial Emosi
Masa menyusui merupakan waktu terbaik untuk meningkatkan endorfin. Dan yang luar biasa adalah endorfin akan naik 2x lipat apabila anak bermain dan bercanda/”ndusel” dengan ayah.
Bahasa
Seringlah mengajak berbicara pada anak. Komunikasi adalah hubungan antar manusia. Bertatap muka, bersentuhan dan berinteraksi dengan anak.

Kognitif
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal)


Alur Perkembangan

Pengetahuan
Anak harus ‘tahu” terlebih dahulu. Misalkan lantai yang baru selesai di pel. Berikan pengetahuan kalau lari dilantai yang licin bisa terjatuh.
Pengalaman
Berikan anak pengalaman yang beragam. Seperti les renang, taekwondo, memasak.

Penerapan
Dalam tahap ini anak bisa menerepkan pengetahuan dan pengalaman yang sudah didapat.
Pemahaman
Setelah ketiga alur diatas mereka lalui, maka anak akan memahami kegiatan atau kejadian yang sudah mereka alami.


Stimulasi dan Penggalian Potensi

Menabung pengetahuan 
Memberi kesempatan mencoba 
Menyeimbangan pengalaman berhasil dan pengalaman gagal 
Melatih kemandirian 
Keseimbangan antara apresiasi dan konsekuensi korektif

Apresiasi bukan sekedar reward atau punishment. Namun lebih dari mengucapkan kata terima kasih dan memberikan pujian kepada keberhasilan anak.  

Korektif dengan penegasan. Misalnya, apabila lantai licin maka anak harus jalan. Jikalau anak menentang dan berlari maka ia akan jatuh. Beri penegasan "LANTAI LICIN", "JANGAN BERLARI", "NANTI JATUH", dan "HARUS JALAN".  Anak akan memehami bahwa kalau lantai licin tidak boleh berlari dan akan jalan.

Anak umur 2 tahun boleh belajar mengiris dengan pisau. Tentu saja memakai pisau yang tumpul/pisau mentega. Berikan penjelasan antara sisi pisau yang tumpul dan yang tajam. Yang diiris adalah tahu atau roti. Jangan dimatikan potensi anak. Jangan dicekoki apa yang harus dia sukai dan tidak dia sukai.


ALUR PENGEMBANGAN


ANALISA – SINTESA –EVALUASI



Kendala Dalam Penggalian Bimbingan Potensi:

Wawasan terbatas. Orang tua kurang informasi dan pengetahuan.

Pengalaman terbatas.

Penerapan yang tidak konsisten dan tidak bertujuan.

Berharap hasil instant.

Memaksakan proses.

Lemah pada evaluasi. 
 

Ayah adalah komponen terpenting dalam keluarga. Jangan biarkan anak tidak tahu potensi apa yang ada pada dirinya. Jika sudah menemukan potensi anak, kembangkan dan dukung  100%.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Peran Orang Tua Dan Guru Dalam Menggali Dan Mengembangkan Potensi Anak"

Post a Comment