3 Tahap Menggali Bakat Anak

Bakat anak ayah Andi


Bakat dan cara mengasahnya


Bakat dapat disamakan dengan pintar atau cerdas. Bakat juga memiliki makna yang sama dengan kemampuan. Arti yang lebih luas adalah mampu menyelesaikan masalah dalam hidupnya dan juga melakukan sesuatu yang bermanfaat. 

Berdasarkan keputusan seminar Nasional Pengembangan PLS pada 17 September 1980, bakat atau kemampuan tersebut meliputi :

1. Kemampuan intelektual umum

2. Kemampuan akademik khusus

3. Kemampuan berpikir kreatif-produktif

4. Kemampuan dalam satu bidang seni

5. Kemampuan psikomotorik


Banyak anggapan bahwa bakat merupakan faktor keturunan. Hal ini tidak sepenuhnya salah. Seseorang yang lahir di dalam keluarga atlit kelak akan menjadi atlit pula. 

Contohnya, juara dunia bulu tangkis 1983 Icuk Sugiarto mempunyai anak bernama Tommy Sugiarto yang juga seorang juara dunia bulu tangkis. Aktor Roy Marten juga mempunyai anak seorang aktor juga bernama Gading Marten. 

Bakat merupakan anugerah Ilahi. Keyakinan dan pemahaman yang turun-temurun inilah banyak anggapan bahwa bakat memang diturunkan. Kalau bukan diturunkan dari ayah dan bundanya pasti dari kakek atau bahkan mbah buyutnya. 

Namun yang pasti adalah tidak ada bakat alami dalam pekerjaan atau bidang tertentu. Tidak ada orang yang ahli di bidangnya tanpa melalui kerja keras, proses latihan serta disiplin. 

Bakat anak yang dibawa sejak lahir dapat berkembang dengan baik jika mendapat rangsangan, perhatian, dan perlakuan yang tepat. 

Sebaliknya, apabila lingkungan tidak memberi kesempatan pada bakat untuk berkembang, bisa dipastikan bakat itu tidak akan muncul dan terus terpendam. 


Menggali potensi kecerdasan anak


Manfaat yang dirasakan dan didapat seorang anak yang mengetahui bahwa ia memiliki kelebihan dalam bidang tertentu adalah anak merasakan percaya diri yang sehat. 

Jika potensi kecerdasan anak sudah teridentifikasi maka orangtua dan guru dapat bekerja sama untuk mengembangkan diri anak dengan baik. 

Menurut pakar parenting dunia Howard Gamer, 

Anak-anak yang berada dalam rentang usia 0-7 tahun adalah anak-anak usia dini yang berada dalam tahap Eksplorasi. 

Masa usia dini tersebut adalah saat yang tepat untuk mengenali berbagai kecerdasan yang dimiki seorang anak. Agar orangtua dan guru dapat mengenali potensi kecerdasan anak, sebaiknya anak dibebaskan untuk memilih jenis kegiatan yang disenangi. 

Dengan demikian, guru, orangtua maupun anak dapat mengidentifikasi kombinasi antara kecerdasan anak yang menonjol atau kuat maupun jenis-jenis kecerdasan yang kurang berkembang. 


1. Tahap Eksplorasi

Dalam tahap ini orangtua dan guru sebaiknya menghindari vonis yang terlalu dini pada anak. Misalnya, "Wah, anak saya pandai menyanyi. Saya akan melatihnya dibidang seni suara supaya menjadi penyanyi."

Sikap demikian ini sangat merugikan karena cenderung mempersempit dan membatasi talenta anak. Sebaiknya tugas orangtua dan guru adalah menyediakan tempat yang kondusif agar kegiatan untuk menggali kecerdasan anak dapat bertumbuh secara optimal. 


2. Tahap Spesialisasi

Usia 7-14 tahun termasuk kedalam tahapan spesialisasi. Pada masa ini anak dilatih untuk mengembangkan keterampilan yang diminati hingga menjadi ahli atau kompeten di bidangnya. 

Keahlian yang berhasil dicapai pada tahap spesialisasi akan menumbuhkan rasa percaya diri yang sehat. Sehingga ia siap memasuki masa perkembangan selanjutnya. 


3. Tahap Sintetis

Pada masa ini anak akan memasuki usia remaja. Tahapan ketiga dari perkembangan seorang anak. Mereka sudah siap mengaplikasikan keahlian dalam konteks dunia nyata. 

Di masa ini seorang anak mulai belajar dan sudah dapat menerapkan kombinasi kecerdasannya dalam praktik hidup sehari-hari. 

Mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu mengatasi hidup, mandiri, serta dapat mengembangkan dirinya sendiri. 


Cara mengoptimalkan kecerdasan anak


Selama ini orangtua lebih fokus pada kekurangan anak. Misalnya, anak kurang cerdas dalam hitung-menghitung maka orangtua akan memberikan les dan pelajaran tambahan berhitung. 

Segala daya upaya, tenaga, waktu dan biaya akan dikorbankan untuk bidang keterampilan yang lemah tersebut. Fokus pada kelemahan anak justru akan memperkuat kelemahan itu sendiri. Anak akan merasa tersiksa secara mental. 

Solusi yang terbaik adalah orangtua tidak berkutat pada kelemahan anak. Akan lebih bijaksana jika orangtua dapat bekerja sama dengan guru untuk mengatasi hal tersebut. Dengan menggali dan mengasah keunggulan yang dimiliki oleh anak. 

Apabila anak TK lemah dalam membaca, tetapi suka olahraga (kecerdasan tubuh), maka pengembangan kecerdasan membaca dapat dikembangkan melalui kegiatan yang berkaitan dengan dunia olahraga. 

Anak-anak akan belajar efektif apabila mereka merasa gembira dan suka. 

Daripada berkutat pada ketidakmampuan anak, yang biasanya diikuti dengan rasa tidak senang, maka lebih baik memanfaatkan potensi anak untuk memperbaiki kelemahannya.

Subscribe to receive free email updates:

25 Responses to "3 Tahap Menggali Bakat Anak"

  1. Seperti kata pepatah jawa : Kacang ora ninggal lanjaran, tapi bakat anak memang bukan hanya dari keturunan. Bisa jadi karena kondisi lingkungan yang mendukung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. sebagai orang tua kita harus menemukan,mengembangkan dan mendukungnya

      Delete
  2. Nah bener ini mas. Kadang orang tua sudah langsung spesialisasi anaknya, padahal si anak masih di bawah 7 tahun. Jadi sebaiknya kalo mau masukin anak les piano, les gitar, atau les vokal yg spesifik itu sebaiknya setelah 7 tahun kah mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, dibawah umur 7 tahun bebaskan anak mengikuti kegiatan/les yang dia senangi

      Delete
  3. Tiap anak itu cerdas dengan bidangnya masing-masing, tugas orangtua adalah mengarahkan anak untuk bisa mengembangkan kecerdasannya seluas-luasnya. Bener banget buat bikin perubahan mindset pada orangtua, jangan fokus pada kekurangannya dan terus menutupinya, tapi harus fokus gimana caranya biar bisa mengembangkan kelebihannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya benar, selama ini banyak orangtua yang fokus pada kelemahan anak

      Delete
  4. Hmm berarti dr artikel ini, dr 4 anak saya, nomor 1 dan 2 masuk tahap sintesis, nomor 3 masuk spesialisasi. Nah yg ragil masih tahap eksplorasi. Tfs ya informasinyaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah hebat.. anak yang nomor 5 dalam tahap apa ya ? hehehe

      Delete
  5. Anakku yg TK males banget baca dan menulis. Tapi dia senang sekali disuruh menghitung. Karena masih di usia ini saya belum mau terburu, anak saya yang laki ini tetap harus belajar menulis dan membaca di SD agar tetap mendapat pengetahuan dasar.

    ReplyDelete
  6. Bakat memegang peranan yang sangat besar. Tapi tanpa bakat pun bisa, dengan cara berlatih belasan kali lebih banyak. Dan itu bisa dilakukan. Karena bakat pun bisa terpendam bahkan terlupakan jika tak pernah digali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya benar dengan latihan dan berlatih terus menerus

      Delete
  7. Zaman sekarang ilmu parenting semakin teliti. Sejak kecil sudah bisa diamati tahap bakat anak, sehingga ortu tidak memaksakan kehendak. Walaupun sebetulnya ortu maksudnya baik sih. Mungkin belum tahu cara yang tepat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya benar bun. sekarang semakin jeli. dulu saya bakat di musik...ehh kok disuruh les matematika, gak nyambung dech

      Delete
  8. Betul.kak sedini mungkin harus dilatih kemampuan motorik dan kognitif anak ya supaya terlihat minat dan bakatnya sehingga lebih gmpng diarahkan .sukses terus ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar, orangtua harus memantau perkembangan bakat anak

      Delete
  9. Selain mengenali kemampuan motorik anak juga tetap mengendapkan bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda

    ReplyDelete
  10. Karena setiap anak punya kelebihan dan kelemahan masing-masing ya. Orang tua perlu peka untuk lebih mengembangkan kelebihan si anak daripada menyoroti kelemahan anak dan memaksanya agar bisa di bidang tersebut. Lebih baik mengembangakan kecerdasannya di bidang lain supaya makin terasah dan suskes. Noted ilmunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul. kalau menyoroti kelemahan anak, kasihan anak akan tertekan

      Delete
  11. Jadi bakat memang harus digali tapi tidak boleh dipaksakan ya kak, ini teman uring-uringan karena banyak keluar uang buat les music, balet, melukis tapi hasilnya anaknya nggak bisa maksimal. Maksudnya sih memang pengen melihat kemampuan anaknya bakatnya dimana tapi sang anak malah merasa tertekan

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar sekali. guru les nya sebenarnya juga harus tahu, anak ini berbakat dibidang tersebut atau tidak.

      Delete
  12. artikelnya bermanfaat banget nih buat saya soalnya saya termasuk orang tua ini sekali bisa memfasilitasi bakat dan minat anak. Ternyata ada tahapan usianya yang untuk mengenal bakat dan minat anak.

    ReplyDelete
  13. Makasih ya kak, saya jadi punya insight untuk menerapkan strategi dalam menghadapi kelemahan anak.

    ReplyDelete
  14. Terima kasih sudah berbagi ilmu, Kak. Penting memang mengenali dan memahami tahapan mengenali kecerdasan anak.

    ReplyDelete